Rabu, 12 Oktober 2011

Menganalisis puisi


1.  Mengungkap judul
2.  Mengubah larik puisi dengan memperhatikan
        enjabemen ( perloncatan larik puisi ) :

DOA
                         
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

Cahya-Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di malam sunyi

Tuhanku                                   
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

Ditata menjadi:

//Tuhanku, dalam termangu/aku masih menyebut nama-Mu// Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh//
Cahya-Mu panas suci/tinggal kerdip lilin di kelam sunyi//
Tuhanku, aku hilang bentuk, remuk//Tuhanku aku mengembara di negeri asing//Tuhanku di pintu-Mu aku mengetuk/aku tidak bisa berpaling//


3.  Memperhatikan pertalian makna pada larik dengan
menginterpolasi ( penyisipan: kata, frasa, tanda baca )
 DOA
Tuhanku, dalam (keadaan) termangu, aku masih menyebut nama-Mu. Biar susah sungguh, (aku tetap)mengingat Kau penuh seluruh. Cahayu-Mu panas (namun) suci, (bagiku) tinggal kerdip lilin di kelam sunyi. Tuhanku aku (ke)hilang(an) bentuk, (aku) remuk. Tuhanku, aku ( seperti orang yang) mengembara di negeri asing. Tuhanku, di pintu-Mu aku mengetuk. (Bagaimana pun ) aku tidak bisa berpaling (dari-Mu)

4.  Memperhatikan :
a.   makna lugas ( makna sebenarnya /makna denotasi/makna leksikal ( makna kamus/leksikon )
misal: luka dan bisa kubawa berlari (Chairil Anwar)
Luka adalah bagian tubuh atau bagian lain yang teriris pisau misalnya. Bisa adalah racun/sejenis cairan dari ular yang mematikan.
b.  makna kias (bukan makna sebenarnya/makna konotasi /makna tambahan/makna gramatikal )
Luka dan bisa artinya segala yang membuat kita sakit, menyusahkan hati, dendam dsb.
c.   makna lambang ( makna kias yang tertuju pada simbol atau lambang tertentu )
bintang melambangkan ketuhanan
ibu pertiwi melambangkan tanah air
bunglon melambangkan orang yang tidak punya pendirian
melati melambangkan kesucian
d.  makna citraan (pengimajinasian)
1.    citraan penglihatan :
Teja dan cerawat masih gemilang
Memuramkan bintang mulia raya
Menjadi pudar padam cahaya
Timbul tenggelam berulang-ulang
          (Pagi-pagi, Muh.Yamin)
              2. Citraan pendengaran :
                   Blik-blok, blek-blok
                   Berjam-jam menumbuk padi
                   Ia menyanyi sedikit-sedikit
                   Supaya kuat menumbuk padi
                     (Perempuan Menumbuk Padi, M.R. Dayoh)
              3. Citraan perabaan / perasaan
                   Pikulan berat, beban berat
                   Menekan bahu, bahu lemah
                   Kaki sakit, badan penat
                   Di mana pasar? Masih jauhkah?
                           (Pekerjaan Anak, A. Hasjmi)
              4. Citraan pengecapan:
                   Gula-gula itu memang manis
                    Bunyi sebuah merek promosi
                    Diam-diam bisnis gula-gula memenuhi
      kebutuhan devisa
       ......................................................
              (Gula-gula, Joss Sarhadi)
5. Citraan penciuman:
     Beta bertanam bunga cempaka
     Di tengah halaman tanah pusaka
     Supaya selamanya, segenap ketika
     Harum berbau semerbak belaka
              Gubahan, Muh. Yamin)
6. Citraan gerak:
     Lemah gemulai lembut derana
     Bertiuplah sepantun ribut
     Menuju gunung arah ke sana
     Membawa awan bercampur kabut
        (Gita Gembala, Muh. Yamin)







e.   makna utuh

Chairil Anwar sebagai manusia biasa mengakui bahwa ia bertuhan dan selalu menjalani perintah agamanya. Namun, kedekatan atau keimanannya kepada Tuhan mulai merosot/luntur. Bahkan, ia mulai melupakan Tuhannya. Kehidupannya menjadi tiada berarti. Chairil sadar bahwa manusia itu tidak bisa lepas dari kekuasaan Tuhan. Akhirnya, ia pun kembali berserah diri kepada Tuhan dan bertobat kepada-Nya.
                                                       
Tambahan:
Untuk memahami sebuah puisi sebaiknya kita harus memahami unsur intrinsik (unsur dalam : tema, amanat, nada dan suasana) dan unsur ekstrinsiknya (unsur luar : kondisi masyarakat (kondisi sosial) saat puisi diciptakan, latar belakang kehidupan seniman penciptanya (penyairnya), dan motivasi terciptanya puisi yang bersangkutan  
                                                                         
PARAFRASE
Parafrase adalah mengubah bahasa puisi menjadi bahasa prosa. Memarafrasekan (menyadur) puisi kadang-kadang mudah , kadang-kadang sulit. Untuk mempermudah pemahaman, perhatikan petunjuk di bawah ini:
1.  Bacalah perlahan-lahan secara cermat puisi yang akan Anda sadur
2.  Catat dan carilah makna kata-kata yang sulit dengan menggunakan kamus
3.  Tafsiri makna kata-kata khusus, baik secara kiasan maupun secara lambang
Hal ini merupakan langkah yang paling sulit, karena sifat kiasan/lambang itu sangat individual (personal). Hal ini dapat Anda tempuh melalui:
a.   perenungan sendiri berdasarkan suasana puisi yang bersangkutan
b.  diskusikan dengan teman-teman (guru)
c.   pendekatan dengan pribadi penyairnya melalui: otobiografi/biografinya, wawancara, informasi dari orang lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
4.  Lengkapi baris-baris yang pekat dalam puisi yang bersangkutan, dengan menambahkan bagian-bagian yang sengaja dihilangkanoleh penyairnya.
5.  Beri penanda pertalian : antarbaris dengan baris, antarbait dengan bait
6.  Usahakan menangkap maksud keseluruhan isi puisi (dalam bentuk konsep)
7.  Menceriterakan kembali keseluruhan isi puisi dalam bentuk prosa.
                                                 
Contoh:
       KARANGAN BUNGA
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu

“Ini dari kami bertiga
pita hitam pada karangan bunga
sebab kami ikut berduka
bagi kakak yang ditembak mati siang tadi.”
Tirani, Taufiq Ismail
Langkah-langkah membuat parafrase:
1.  Membaca puisi Karangan Bunga denga perasaan secara cermat, dan perlahan-lahan
2.  Mencatat dan mencari makna kata-kata yang sulit. ( di sini tidak ada yang sulit)
3.  Beberapa kata kias/lambang yang dapat kita jadikan kunci untuk membuat parafrase. ( di sini kata-katanya bermakna lugas, dan tak ada kata kias/lambang)
4.  dan 5 Melengkapi baris-baris yang pekat dengan bagian-bagian yang dihilangkan oleh penyairnya, dan memberi penanda hubungan (bagian-bagian yang untuk melengkapi atau tanda-tanda baca yang ditambahkan diberi tanda kurung).

KARANGAN BUNGA

(ada) tiga (orang) anak kecil
dalam langkah malu-malu (,)
datang ke Salemba
(pada) sore itu (.)

(mereka berkata sambil menyerahkan sesuatu)(,)
“Ini dari kami bertiga (,)
pita hitam pada (sebuah) karangan bunga (.)
(kami serahkan ini) (,) sebab kami ikut berduka
bagi kakak (kami) yang ditembak mati
(pada) siang tadi(.)”

      (6) Menangkap maksud keseluruhan isi puisi ( dalam bentuk konsep)
-        Pada suatu sore tiga orang anak kecil dengan agak malu datang ke Salemba.
-        Mereka menyerahkan sebuah karangan bunga berpita hitam untuk yang mereka anggap kakaknya yang mati ditembak pada siang hari itu.
      (7) Menceriterakan kembali keseluruhan si puisi dalam bentuk prosa yang jelas
            ( menjadi sebuah parafrase atau saduran)
       Pada suatu sore, datanglah tiga orang anak kecil ke Salemba dalam langkah malu-malu. Mereka menyerahkan sebuah karangan bunga yang berpita hitam sebagai tanda ikut berduka cita terhadap kakak mereka (orang yang dianggap kakak) yang telah ditembak mati pada siang hari itu.

    SUBUH
Kalau subuh kedengaran tabuh
Semua sepi sunyi sekali
Bulan seorang tertawa terang
Bintang mutiara bermain cahaya

Terjaga aku tersentak duduk
Terdengar irama panggilan jaya
Naik gembira meremang roma
Terlihat panji terkibar di muka

Seketika teralpa
Masuk bisik hembusan setan
Meredakan darah debur gemuruh
Menjatuhkan kelopak mata terbuka


Terbaring badanku tiada berkuasa
Tertutup mataku berat semata
Terbuka layar gelanggang angan
Terulik hatiku di dalam kelam

Tetapi hatiku, hatiku kecil
Tiada terlayang di awang dendang
Menangis ia bersuara seni
Ibakan panji tiada berdiri.

Nyanyi Sunyi, Amir Hamzah
Langkah membuat parafrase:
1.     Membaca puisi SUBUH denga perasaan, secara cermat dan perlahan.
2.     Mencatat dan mencarai makna kata-kata sulit
Tabuh                   = beduk
Meremang   = seram, tegak (tentang bulu badan)
Roma          = bulu (rambut) yang halus pada tubuh, bulu kuduk
Panji           = bendera (terutama yang berbentuk segi panjang)
Teralpa       = lalai,lengah
Terulik        = tertidur
Dendang     = nyanyian untuk bersenang-senang hati (sambil bekerja)
Awang        = angkasa
Bersuara seni = bersuara kecil tinggi

3.     menafsiri dan mencatat makna kata-kata khusus sebagai kiasan/lambang. Karena sulit, lebih baik didiskusikan dengan teman
panggilan jaya                         = suara azan
terlihat panji terkibar di muka          = terdengar perintah Allah (melakukan
   sembahyang) sudah teringat
darah debur gemuruh     = gairah(semangat) untuk melakukan sembahyang
menjatuhkan kelopak mata terbuka = menjadikan mata terlelap
terbuka layar gelanggang angan = timbul niat untuk bersembahyang
terulik hatiku di dalam kelam = kini tidur pulas dalam kelam
tiada terlayang di awang dendang = terasa tidak merasa tenang dan tidak
                                                           merasa tenteram.
menangis ia bersuara seni  = hatinya menangis menjerit-jerit
Ibakan panji tiada terdiri = menyesali diri karena tidak mematuhi perintah Allah ( sembahyang)
4.     dan 5
Melengkapi baris-baris yang pekat, memberikan penanda hubungan, menggantikan tafsiran makna kias/lambang kepada kata-kata khusus:

SUBUH
Kalau (waktu) subuh kedengaran tabuh (:)
Semua (masih dalam keadaan) sepi sunyi sekali (,)
Bulan (laksana) seorang (yang sedang) tertawa terang (,)
Bintang (laksana) mutiara (yang) bermain cahaya.

Terjaga aku(dengan spontan) dan tersentak (untuk) duduk(<), (karena)
Terdengar irama suara azan (yang membuat hatiku)
Menjadi gembira (dan) tegak bulu kudukku(,) (karena)
Teringat akan perintah Allah untuk bersembahyang.

Seketika teralpa (aku, karena)
Masuk bisikan hembusan setan, (yang)
Meredakan gairah atau semangat untuk bersembahyang(,)dan
Menjadi mata terlelap (,) (sehingga)

Terbaring badanku tiada kuasa(, ) (karena)
Tertutup mataku (dan) berat semata (padahal)
(semula) timbul niat untuk bersembahyang (,)
(tak kusadari) kini aku tidur pulas dalam kelam.

Tetapi hatiku,hati kecilku
Terasa tidak merasa senang dan tenteram (dan)
Menangis menjerit-jerit
Menyesali diri karena tidak mematuhi perintah Allah (untuk bersembahyang) 

(6) Mengungkap maksud keseluruhan isi puisi (dalam bentuk konsep)

SUBUH     
          Waktu subuh terdengar tabuh:
Suasanan di sekelilingnya sepi, bulan dan bintang masih menunjukkan cahayanya yang terang
Mendengar suara azan dengan sepontan ia terjaga dan tersentak duduk, merasa gembira sehingga tegak bulu kuduknya karena masih berkesempatan untuk melakukan sembahyang.
          Tiba-tiba niat itu hilang lenyap karena terpengaruh bisikan setan. Mata menjadi terpejam, tidur pulas dalam kelam, sehingga tidak jadi bersembahyang.
Akibatnya, hati kecilnya selalu tidak merasa senang dan tidak tenteram. Hatinya menangis menjerit-jerit menyesali diri, karena tidak mematuhi perintah Allah untuk bersembahyang .

(7) Menceriterakan kembali keseluruhan isi puisi dalam bentuk prosa yang jelas
 (menjadi sebuah parafrase/saduran)

SUBUH

Pada waktu subuh, terdengar suara tabuh. Suasana keliling sangat sepi. Hanya bulan dan bintang di angkasa masih nampak bercahaya. Pada waktu itu terdengar oleh penyair suara azan. Ia terjaga dan tersentak duduk. Hatinya merasa sangat bahagia karena masih diberi kesempatan untuk menjalankan sembahyang. Demikian gembiranya sehingga berdiri bulu kuduknya. Tetapi tiba-tiba niatnya untuk bersembahyang tersebut hilang karena terperdaya oleh bisikan setan. Matanya kembali terpejam dan hatinya yang tadi bersemangat hendak bersembahyang kini tertidur dalam kelam. Tetapi hati kecilnya tidak dapat tenang. Hati kecilnya menangis, menyesali dirinya yang tidak jadi menjalankan sembahyang.

PERINGATAN

          Dari keterangan-keterangan beserta contoh-contoh di atas, jelas bahwa membuat parafrase /saduran sebuah puisi itu ternyata bukanlah memprosakan puisi itu sebaris demi sebaris, melainkan mengungkapkan kembali keseluruhan isi puisi dalam bentuk prosa, dengan tidak menghilangkan esensi (makna pokok) isi puisi. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar